Minggu, 11 Desember 2011

Pembunuhan Mutilasi


Pembunuhan Mutilasi

Akibat Posesif yang Berlebih 
Jakarta - Cinta bisa membunuh, bahkan memutilasi. Hal itu memang terdengar janggal. Tapi, menurut Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala, kondisi ini sangat mungkin terjadi. "Perasaan cinta yang sangat mendalam bisa berefek apa saja. Misalnya membunuh," begitu kata Adrianus kepada detikcom.

Pendangan Adrianus ini merujuk beberapa kasus mutilasi yang terjadi belakangan ini. Sebut saja kasus pembunuhan dan mutilasi terhadap Hari Santoso, yang dilakukan oleh Very Idam Henyansah alias Ryan. Kepada polisi, pria asal Jombang itu mengaku
tega membunuh Heri lantaran cemburu, karena Heri telah mempermainkan teman lesbinya, Novel.

"Saya cemburu karena dia mau `pakai` pacar saya. Dia juga mau bayar mahal," kata Ryan di hadapan penyidik beberapa waktu lalu.

Begitu juga dengan kasus mutilasi Hendra, 29 September lalu, yang dilakukan istri ke-empatnya, Sri Rumiyati. Sri mengaku membunuh Hendra karena rasa cemburu. Selama ini, Hendra, yang berprofesi sebagai sopir truk,
memang dikenal doyan kawin sehingga dijuluki 'Burung' oleh teman-temannya.

Sumber detikcom di Mapolda Metro Jaya menyebutkan, Sri sangat kesal kepada Hendra, karena suaminya itu ingin menikah lagi. Karena sang suami ingin mencari istri ke-lima, Sri merasa marah dan cemburu. Akhirnya Sri
menghabisi nyawa Hendra saat sang suaminya itu sedang terlelap tidur.

Setelah membunuh, Sri kemudian memotong-motong tubuh Hendra menjadi 13 bagian. Potongan jasad Hendra selanjutnya dimasukkan ke dalam kantong kresek dan dibuang
di dalam bus Mayasari Bhakti jurusan Kalideres-Pulogadung.

Adapun kasus yang menimpa Atika, ibu muda yang tinggal di Pondok Rajeg, Kabupaten Bogor, juga demikian. Perempuan yang sedang hamil 2 bulan itu tewas dengan dua telapak tangan terpotong. Pelakunya tak lain adalah Entong, suaminya sendiri.

Atika yang merupakan istri ke dua Entong diduga dibunuh lantaran Entong cemburu. Sebab Entong mendengar kabar kalau Atika sering minta-minta uang kepada orang lain, terutama pria. Karena kesal, Entong kemudian mencekik Atika hingga tewas dan memotong ke dua telapak tangan istrinya dan memendamnya ke dalam lumpur.

Aksi mutilasi terhadap orang-orang yang punya hubungan spesial ini, menurut psikolog Liza Marielly Djaprie, akibat perilaku posesif yang berlebihan dari para pelaku. "Pelaku tidak bisa menahan emosi terhadap sikap posesifnya itu. Karena tidak terkontrol, ia kemudian membunuh," terang Lisa kepada detikcom.

Menurut Liza, orang-orang yang punya sikap tersebut (posesif) merasa sangat memiliki pasangannya itu. Nah, ketika ia khawatir apa yang dicintainya bakal melayang, ia kemudian melakukan cara apa pun untuk mempertahankannya. Paling tidak, orang yang dicintainya itu tidak berpindah ke orang lain.

"Kalau saya melihat dari kasus-kasus mutilasi yang ramai sekarang ini disebabkan pelaku takut kehilangan orang yang dicintainya," jelas Liza.

Lantas apakah mutilasi itu disebabkan karena hubungan asmara yang tidak lazim? Sebut saja kasus Ryan yang homoseksual serta Atika yang jadi istri ke-dua Entong dan Sri yang istri ke-empat Hendra? Tapi kata Liza, asumsi tersebut tidak beralasan. Sebab kekerasan yang sangat sadis juga sering menimpa pasangan normal.

"Kebetulan saja yang terekam dalam kasus mutilasi belakangan menyangkut hubungan yang aneh-aneh. Sebenarnya dalam hubungan asmara yang normal tindak kekerasan yang sadistis juga sering terjadi," ujar dia.

Posesif itu sendiri, imbuh Liza merupakan prilaku yang normal dan dimiliki oleh semua orang. Namun bila perilaku tersebut menjurus kepada tindakan yang tidak normal, apalagi memutilasi, orang tersebut telah mengalami gangguan jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar