Kamis, 12 Januari 2012

KAB.KEDIRI-Awas!!! Narkoba Rasa Permen dan Aroma Tinta Pensil

Lembaga pendidikan menjadi incaran pengedar narkoba. Para pelaku semakin canggih dalam memasarkan obat-obatan terlarang, guna merusak generasi muda bangsa. Mereka mengemas narkoba menjadi jajanan supaya aksinya tidak terendus petugas. Demikian disampaikan Kanit Binmas Polsek Banyakan Aiptu Rusdiyanto saat memberikan penyuluhan narkoba kepada para siswa-siswi SDN Jabon II.

"Oleh karena itu, peran serta guru dan orang tua sangat penting. Pemberantasan narkoba bukan hanya tugas dari polisi dan petugas BNN (Badan Narkotika Nasional), tetapi kewajiba semua pihak,"ujar Rusdiyanto, dihadapan puluhan siswa-siswi dan anggota IV, Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, selaku pengemas acara.

Masih kata Rusdiyanto, peredaran narkoba dengan cara mengemas obat-obatan terlarang menjadi jajanan, menjadi modus operandi baru. Bahkan, pelaku kejahatan narkoba tidak segan-segan "menjejali" anak-anak secara gratis. "Guru dan orang tua harus waspada. Anak yang terkontaminasi narkoba yang dikemas pada janan ini menimbulkan reaksi, anak-anak menjadi berkeringat dan suhu badannnya agak tinggi. Apabila anak terus memperoleh zat ini, bisa menimbulkan efek kecanduan serta menjadi beringas, selalu menentang," terangnya.

Selain modus jajan, imbuhnya, narkoba juga dikemas dalam bentuk tinta pensil yang berbau harum. Tujuannya, anak-anak bisa mencium aroma yang ditimbulkan dari tinta tersebut, sehingga menjadi kecanduan. "Ada seorang anak di sekitar desa ini yang saat ini harus berurusan dengan pihak yang berwajib karena terlibat dalam peredaran narkoba. Ini menjadi bukti jika peredaran narkoba sudah merambah ke dunia pendidikan. Harga narkoba yang murah serta mudahnya memperoleh barang terlarang itu, menjadi faktor utama maraknya peredaran narkoba," tegasnya.

Terpisah, Kepala SDN Jabon II Endang Sri Astuti, S.Pd berpesan kepada semua anak didiknya agar selalu mewaspadai terhadap orang asing yang menawarkan sesuatu. Bisa jadi, barang yang ditawarkan tersebut adalah obat-obatan terlarang. "Kami selalu memberikan pembekalan kepada anak-anak. Selain itu, kami juga kerap berpesan kepada wali murid dan komite supaya bisa menjaga dan mengawasi anak didik," ungkapnya.

Disisi lain, perwakilan mahasiswa Nanang M mengaku, lemahnya pengawasan dari orang tua dan lingkungan yang kurang dinamis menjadi faktor utama masuknya narkoba ke anak didik. Untuk itu, peranan dari guru sangat vital.

Acara penyuluhan narkoba ke siswa-siswi SDN Jabon II sendiri merupakan salah satu program yang dicanangkan kelompok IV KKN tahun 2011 yang bertempat di Dusun Manukan, Desa Jabon, Kecamatan Banyakan. Kalangan akademisi yang juga berasal dari para guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (Penjaskesrek) serta Pendidikan Kewarga Negaraan (PKN)

Bentrok Pilkada Puncak Coba Diselesaikan Secara Adat

JAKARTA - Meskipun diupayakan penyelesaian secara adat dalam kasus bentrok Pilkada Puncak Jaya, Papua, namun polisi tetap berupaya memburu tersangka dalam insiden ini.

"Kami tetap mencari pelakunya. Tapi agar tidak berkembang, kami minta bantu tokoh-tokoh adat supaya bisa mereda," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Rabu (3/8/2011).

Anton menambahkan, peranan para tokoh adat sangat penting untuk mendamaikan kedua pihak sesuai dengan aturan adat setempat.

"Karena tokoh-tokoh adat berperan untuk masalah seperti ini. kami tidak ingin berkembang saling menyerang lagi," kata Anton.

Dia menegaskan, polisi juga akan memeriksa tokoh dari kedua kubu yakni Thomas dan Alom. "Ya tentu akan dimintai keterangan, tapi sekarang belum. Nanti saya cek lagi. Yang jelas sekarang baru 8 saksi tersebut. Tapi semua akan dimintai keterangan," tutupnya.

Bentrok antara kubu Thomas dan Alom terjadi dua kali. Yaitu pada 30 Juli dan 31 Juli 2011 lalu. Peristiwa ini menewaskan 19 orang dan 1 orang luka-luka. Pemicunya adalah perkara Pemilukada.

Pada Sabtu 30 Juli 2011 sekira pukul 15.00 WIT, Simon Alom tengah melakukan pendaftaran ke kantor KPU sebagai bakal calon Bupati Puncak. Namun berkasnya ditolak lantaran Thomas Tabuni sebagai Ketua Partai Gerindra mencabut dukungannya kepada Alom.

Selanjutnya massa pendukung Alom marah dan menyerang massa Thomas Tabuni sehingga terjadi bentrok. Pasukan Brimob BKO dan anggota Polsek Ilaga, Kabupaten Puncak, sempat menghalau kedua kelompok tersebut agar tidak saling serang. Namun keadaan tak terkendali lantaran kedua kubu perang dengan menggunakan panah dan batu.

Bahkan seorang anggota Brimob Bripda Frans terkena anak panah. Dalam bentrokan ini 2 orang meninggal dan 1 luka.

Selanjutnya, keesokan harinya pada 31 Juli 2011 sekira pukul 06.30 WIT di lokasi yang sama kembali terjadi bentrokan saling serang kedua kubu yang mengakibatkan rumah Tabuni, mobil dinas dan sebuah Honay (rumah adat Papua) rusak parah. Kantor KPU setempat pun tak luput dibakar massa.

Dalam insiden ini 17 orang tewas. Sebanyak 13 orang dari kubu Thomas dan empat orang dari kubu Alom. Korban keseluruhan dari kedua belah pihak sebanyak 19 orang dan 1 orang luka-luka.

94% Masyarakat Indonesia Mengidap Depresi

Survei yang dilakukan Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (PDSKJ) menyebutkan sekitar 94 persen masyarakat Indonesia mengidap depresi dari mulai tingkat ringan hingga paling berat.
“Sekarang ini disinyalir kesehatan mental bangsa ini sudah sangat rendah, kawan-kawan dari PDSKJ melakukan penelitian yang menyebutkan 94 persen masyarakat Indonesia mengidap depresi ringan sampai berat. Itu angka yang sangat besar,” kata Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Fachmi Idris.
Fachmi menyebutkan contoh dari sikap depresi masyarakat antara lain terlihat pada ketidakkepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.
Mendasar dari kondisi seperti itu, dan menyongsong seabad Kebangkitan Nasional pada 2008 dan seabad kiprah dokter Indonesia, IDI memiliki program untuk melakukan revitalisasi peran dokter Indonesia tidak lagi sebagai “agent of treatment” (pelayan kesehatan fisik) tetapi juga menjadi “agent of change” (agen perubahan) untuk memperbaiki kondisi mental dan sosial masyarakat.
“Karena sehat bukan saja fisik tetapi mental dan sosial, sehingga dokter harus jadi `agent of change` dengan mengintervensi kondisi bangsa ini, seperti dengan sistem yang ditata lebih baik sehingga bangsa Indonesia menjadi sehat secara fisik, mental dan sosial,” katanya.
Fachmi menjelaskan, revitalisasi pelayanan yang dilakukan adalah dengan mengubah sistem pelayanan dokter di tingkat dasar, dengan mengubah peran Puskesmas menjadi dokter keluarga.
“Pelayanan kedokteran tidak lagi dilakukan melalui Puskesmas, diganti dokter keluarga, yaitu satu entitas dokter yang terdiri dari dokter, bidan dan perawat menjaga 2.500 orang, sehingga ada `personal care` yang menonjol,” katanya.
Dengan dokter keluarga, lanjutnya kondisi pasien secara indivindual akan diketahui secara mendalam baik dari sisi fisik, mental, dan sosial dengan dokter yang mendatangi ke rumah pasien.
Namun, menurutnya hal ini hanya bisa berjalan apabila sistem jaminan sosial sudah berjalan dengan sistem asuransi kesehatan seperti yang sekarang sudah berjalan, namun belum menyentuh masyarakat yang bekerja di sektor informal dan petani.
Sejalan dengan itu, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Sapari mengatakan akan untuk mendukung program IDI dengan membenahi sistem pembiayaan kesehatan yang saat ini sedang digodok pemerintah agar masyarakat yang bekerja di sektor informal memiliki asuransi kesehatan.
“Kita sedang godok itu dan sekarang sudah 70 persen. Kita jadwalkan tahun 2009 sekurangnya 75 persen dari populasi masyarakat memiliki asuransi kesehatan,” katanya. (yz, Sumber: Antara)

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SEMPURNA

Yang mengatakan bahawa manusia itu adalah makhluk paling sempurna ialah Allah
sendiri.

... Paling sempurna hendaklah dilihat dari segi perbandingan. Maksudnya dibandingkan
dengan makhluk makhluk yang lain, maka manusialah yang paling sempurna. Tiada yang dapat menandinginya dari segi kesempurnaan itu. Ini bermakna manusia itu lebih
sempurna dari Malaikat, Iblis, Bulan, Matahari , Bintang Bintang malah dari kesemua
makhluk yang ada.

Berdasarkan kehidupan kita sendiri dan apa yang kita lihat di-sekeliling kita berkaitan
manusia lain, kenyataan Allah Tuhan kita ini amat pelik bagi kita. Betapa tidak. Hidup kita didunia ini, penuh dengan kesusahan dan kepayahan. Dalam hal mencari rezeki sahaja kita terkial-kial. Sempurna apakah kita ini ? Dunia pula menjadi haru biru kerana manusia itu atas sifat tamak halobanya sentiasa berbunuh-bunuhan. Kehidupan anak anak muda kita, penuh kekayalan dengan penyalahgunaan dadah dan mengamalkan seks bebas ?

Maka adalah jelas pada pandangan zahir kita bahawa hidup dan kehidupan manusia itu penuh dengan kelemahan dan kekecewaan, tidak sempurna dan tidak bahagia.
Bertentangan dengan kenyataan diatas Allah pula menegaskan bahawa manusia itu ialah makhluk paling sempurnaNYA. Berdasarkan Iman dan Tauhid kita, mustahil Firman Allah itu tidak benar. Maka percayalah kita bahawa manusia itu paling sempurna tanpa faham sedikitpun maksud sebenar kenyataan Allah itu.

Jadi apakah jawapannya ? Hanya Ilmu Allah sahaja yang mengetahui dan dapat memberi jawapan. Dan ilmu itu ialah Ilmu Hakikat Allah. Dari segi akal kita manusia itu lebih sempurna dari Malaikat, Jin, Syaitan dan Iblis kerana manusia itu ada Jasadnya, yang tersebut terdahulu tiada berjasad.

Manusia itu lebih sempurna kerana Malaikat hanya dapat berbuat kebaikan manakala
Iblis hanya dapat berbuat jahat. Manusia pula boleh melakukan kedua-duanya yaitu baik dan jahat.

Ilmu Hakikat menjelaskan bahawa Kesempurnaan manusia itu terletak pada Hakikatnya atau Diri Hakikinya bukan manusia yang berbadan dan bernyawa. Kita berikanlah nama baru untuk menunjukkan perbezaan. Perkataan kita ialah INSAN. Pada Insanlah letaknya Kesempurnaan itu. Manusia itu jadi susah, haru biru, sesat dan tidak bahagia kerana SALAH MENJALANI KEHIDUPAN. Ini adalah kerana KEJAHILAN manusia itu sendiri kerana tidak mengenal Dirinya. Maka bergantunglah ia kepada Benda Mati dan bukan kepada Benda Hidup. Hidupnya dengan menggunakan tenaga yang sedikit sedangkan tenaga yang membuatkan dirinya SEMPURNA itu tidak diketahuinya.

Kisah Batu Ajaib Ponari Sang Dukun Cilik

Apa sebenarnya batu ajaib milik Ponari, dukun cilik asal Megaluh, Jombang, yang aksinya mencengangkan Jawa Timur itu?

Menurut Ponari, batu ajaib itu ditunggu dua makhluk gaib, laki-laki dan perempuan bernama Rono dan Rani. Dua makhluk gaib itulah yang selama ini  memberikan amanat kepada Ponari untuk menolong orang sakit melalui batu yang ditemukan pertengahan Januari lalu.

Kisah penemuan batu sebesar kepalan tangan anak-anak berwarna coklat kemerahan itu cukup dramatis dan bernuansa mistis. Ponari dalam ceritanya beberapa waktu lalu mengungkapkan, batu itu ditemukan secara tidak sengaja, yakni saat hujan deras mengguyur desanya.

Sebagaimana bocah-bocah seusianya, Ponari bermain-main di bawah guyuran hujan lebat yang sesekali diiringi suara geledek. Pada saat itu, lanjut Ponari, bersamaan suara petir yang menggelegar, kepalanya seperti dilempar benda keras.

Sejurus kemudian, Ponari merasakan hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Bersamaan itu, Ponari merasakan ada batu berada di bawah kakinya. Batu tersebut mengeluarkan sinar warna merah. Karena penasaran, batu itu dibawa pulang dan diletakkan di meja.

PASIEN PERTAMA

Siapa "pasien" pertama Muhammad Ponari? Bocah yang namanya melejit bak artis itu pertama kali menyembuhkan tetangga yang muntah dan sakit panas.

Mendengar cerita Ponari tentang penemuan batu ajaib itu, Kasim, sang ayah, menganggap anaknya hanya membual. Bahkan, neneknya, Mbok Legi, membuang batu tersebut di rumpun bambu. Namun, aneh, ketika sang nenek kembali ke rumah, batu itu sudah berada di tempat semula. Padahal, lokasi rumpun bambu itu berjarak sekitar 100 meter dari rumah.

Beberapa hari kemudian, tetangga mereka mengalami sakit panas dan muntah-muntah. Tanpa ada yang meminta, Ponari membawa batu ajaib dan memasukkannya ke segelas air putih, kemudian diminumkan kepada tetangga yang sakit.

Ajaib, beberapa jam kemudian, tetangga tadi sembuh total. Bermula dari sinilah, kemudian kabar cepat beredar dari mulut ke mulut, dan akhirnya setiap hari rumah keluarga Ponari didatangi ribuan pengunjung.

Sumber : kompas

Minggu, 11 Desember 2011

Pembunuhan Mutilasi


Pembunuhan Mutilasi

Akibat Posesif yang Berlebih 
Jakarta - Cinta bisa membunuh, bahkan memutilasi. Hal itu memang terdengar janggal. Tapi, menurut Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala, kondisi ini sangat mungkin terjadi. "Perasaan cinta yang sangat mendalam bisa berefek apa saja. Misalnya membunuh," begitu kata Adrianus kepada detikcom.

Pendangan Adrianus ini merujuk beberapa kasus mutilasi yang terjadi belakangan ini. Sebut saja kasus pembunuhan dan mutilasi terhadap Hari Santoso, yang dilakukan oleh Very Idam Henyansah alias Ryan. Kepada polisi, pria asal Jombang itu mengaku
tega membunuh Heri lantaran cemburu, karena Heri telah mempermainkan teman lesbinya, Novel.

"Saya cemburu karena dia mau `pakai` pacar saya. Dia juga mau bayar mahal," kata Ryan di hadapan penyidik beberapa waktu lalu.

Begitu juga dengan kasus mutilasi Hendra, 29 September lalu, yang dilakukan istri ke-empatnya, Sri Rumiyati. Sri mengaku membunuh Hendra karena rasa cemburu. Selama ini, Hendra, yang berprofesi sebagai sopir truk,
memang dikenal doyan kawin sehingga dijuluki 'Burung' oleh teman-temannya.

Sumber detikcom di Mapolda Metro Jaya menyebutkan, Sri sangat kesal kepada Hendra, karena suaminya itu ingin menikah lagi. Karena sang suami ingin mencari istri ke-lima, Sri merasa marah dan cemburu. Akhirnya Sri
menghabisi nyawa Hendra saat sang suaminya itu sedang terlelap tidur.

Setelah membunuh, Sri kemudian memotong-motong tubuh Hendra menjadi 13 bagian. Potongan jasad Hendra selanjutnya dimasukkan ke dalam kantong kresek dan dibuang
di dalam bus Mayasari Bhakti jurusan Kalideres-Pulogadung.

Adapun kasus yang menimpa Atika, ibu muda yang tinggal di Pondok Rajeg, Kabupaten Bogor, juga demikian. Perempuan yang sedang hamil 2 bulan itu tewas dengan dua telapak tangan terpotong. Pelakunya tak lain adalah Entong, suaminya sendiri.

Atika yang merupakan istri ke dua Entong diduga dibunuh lantaran Entong cemburu. Sebab Entong mendengar kabar kalau Atika sering minta-minta uang kepada orang lain, terutama pria. Karena kesal, Entong kemudian mencekik Atika hingga tewas dan memotong ke dua telapak tangan istrinya dan memendamnya ke dalam lumpur.

Aksi mutilasi terhadap orang-orang yang punya hubungan spesial ini, menurut psikolog Liza Marielly Djaprie, akibat perilaku posesif yang berlebihan dari para pelaku. "Pelaku tidak bisa menahan emosi terhadap sikap posesifnya itu. Karena tidak terkontrol, ia kemudian membunuh," terang Lisa kepada detikcom.

Menurut Liza, orang-orang yang punya sikap tersebut (posesif) merasa sangat memiliki pasangannya itu. Nah, ketika ia khawatir apa yang dicintainya bakal melayang, ia kemudian melakukan cara apa pun untuk mempertahankannya. Paling tidak, orang yang dicintainya itu tidak berpindah ke orang lain.

"Kalau saya melihat dari kasus-kasus mutilasi yang ramai sekarang ini disebabkan pelaku takut kehilangan orang yang dicintainya," jelas Liza.

Lantas apakah mutilasi itu disebabkan karena hubungan asmara yang tidak lazim? Sebut saja kasus Ryan yang homoseksual serta Atika yang jadi istri ke-dua Entong dan Sri yang istri ke-empat Hendra? Tapi kata Liza, asumsi tersebut tidak beralasan. Sebab kekerasan yang sangat sadis juga sering menimpa pasangan normal.

"Kebetulan saja yang terekam dalam kasus mutilasi belakangan menyangkut hubungan yang aneh-aneh. Sebenarnya dalam hubungan asmara yang normal tindak kekerasan yang sadistis juga sering terjadi," ujar dia.

Posesif itu sendiri, imbuh Liza merupakan prilaku yang normal dan dimiliki oleh semua orang. Namun bila perilaku tersebut menjurus kepada tindakan yang tidak normal, apalagi memutilasi, orang tersebut telah mengalami gangguan jiwa.

MUTILASI

Perempuan Hamil Tewas Dibunuh Pria Selingkuhannya

Dira Derby - detikNews


Tangerang - Seorang perempuan yang tengah hamil enam bulan tewas dibunuh pasangan selingkuhannya. Perempuan itu meregang nyawa setelah ditusuk di leher oleh pelaku.


Jamrotun (39) nama perempuan itu, ditemukan tewas bersimbah darah di Perumahan Taman Adiyasa Blok H RT 06/08, Desa Cisasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Selasa (1/2/2011) sekitar pukul 19.30 WIB.


Jumrotun merupakan warha Kampung Pabuaran RT 01/ RW 05 Desa Gembong, Balaraja, Kabupaten Tangerang, Banten. Tersangka diketahui bernama Ahmad Gozali (30), yang ternyata adalah tetangga korban.


Kasat Reskrim Kabupaten Tangerang Kompol Arie Setiawan saat dihubungi Selasa (2/2/2011) menyatakan, dari hasil penyelidikan dan berdasarkan barang bukti yang ditemukan serta keterangan beberapa orang saksi, akhirnya petugas mengetahui bahwa pelaku pembunuhan tersebut adalah Ahmad Gozali, kekasih yang juga tetangga korban.


“Gozali akhirnya berhasil ditangkap pada Selasa malam itu juga tanpa melakukan perlawan
dan mengakui semua perbuatanya, “kata Arie.


Menurut Arie, motif pembunuhan itu diduga korban meminta pertanggungjawaban karena sudah hamil enam bulan. Namun, permintaan itu ditolak dengan alasan tersangka sudah punya istri sehingga terjadi cekcok mulut yang besar.